Posts

Menghargai yang bernilai

Baru saja kita melewati bulan September dan saat ini sudah masuk bulan Oktober. Tak terasa kalo kurang lebih 3 bulan lagi kita bakal menuju ketahun 2020. Ada berapa banyak dari kita yang merasa kalau waktu rasanya makin lama makin cepet berjalan? Kalo dulu waktu di SD, rasanya pengen banget buat ke SMP, dari SMP pengen cepet-cepet SMA, dan sekarang kuliah pun udah di semester akhir. Ya, sekarang juga gua merasa waktu begitu aja lewat. Saat waktu berjalan, umur bertambah. Sadar atau tidak masing-masing dari kita udah sibuk sama bisnis (kepentingan) kita masing-masing. Alhasil, kita mengalokasikan tenaga kita buat ngerjain urusan kita dan waktu juga kita habiskan untuk itu. Dari sini, kita kadang udah capek kalo mau ngurusin hal yang bukan prioritas, atau udah gaada waktu untuk bersosial, karena kita udah capek dan butuh istirahat. Pernahkah kalian mengalami atau menemui fenomena diatas? Ya, gua kira hampir semua dari kita. ---Terus kenapa?--- tanya netijen wkwk Gua ...

Personal & Social Power

Power (Kekuasaan) adalah kemampuan atau kapasitas untuk melakukan sesuatu dalam cara tertentu (Kamus Oxford) Pengertian diatas adalah definisi umum soal power (kekuasaan). Untuk menemui kekuasaan dalam kehidupan sehari-hari dapat dilihat mulai dari keluarga ada orang tua, guru-guru di lingkungan sekolah, hingga pemerintahan. Kekuasaan adalah keniscayaan. Percaya atau tidak, hidup yang sedang kita jalani ini besar kecilnya merupakan buah dari kekuasaan yang kita tidak sadari. Sejak kecil kita diwajibkan untuk sekolah, setelah itu kita melanjutkan pendidikan lebih tinggi, lalu menikah, dst.  Mungkin waktu kecil berpikir, memang beginilah proses hidup. Namun, penting untuk kita menyadari bahwa proses tersebut adalah buah dari kekuasaan sosial. Seolah-olah ada yang salah jika kita tidak mengikuti jalur kehidupan umum. Beberapa waktu lalu, teringat akan sebuah nasihat seorang dosen yang mengatakan untuk apa lulus 3,5 tahun tetapi belum mencapai a,b,c,d,e. Mahasiswa ditu...

Dari Dalam

Hai temen-temen, ya setelah sekian lama ngga nulis, akhirnya pengen nulis lagi wkwkwk. sebenernya banyak hal yang pengen ditulis, tapi gatau akhir-akhir ini lebih memendam apa yang muncul dihati ama dipikiran, entah diblog atau socmed hehehehe. Ohiya, udah bulan 6, gakerasa udah setengah tahun berhasil dilewati di 2019 wkwkkwk. jadi hari ini gue mau berbagi sesuatu, apa yang udah gue lewati seminggu ini. Ngomong-ngomong gue minggu ini mulai magang, magangnya dimana? (nanti aja dibuat tulisan khusus kali ya) hari ini fokus sama yang pengen gue bagi aja dulu. Nah jadi selama seminggu gue magang ditempat ini, karena memang baru balik liburan, otomatis belum banyak hal yang dikerjain. Selama magang gue ontime dateng jam 8, baju udah rapi, udah siap bangetlah ya untuk kerjain sesuatu, tapi apa boleh buat, selama seminggu ini gue belum banyak ngerjain apa-apa. Jadi selama 8 jam kerja, gue duduk dan ngobrol, sambil beradaptasi sama situasi kehidupan diarea tempat gue magang. Jujur aja...

Dear Netizen

Image
Halo, setelah banyak waktu yang telah dilewati tanpa menulis di blog ini Kembali lagi kesini, untuk mencurahkan isi yang telah dikepala ini beberapa waktu terakhir, ada satu kasus yang cukup meramaikan telinga dan mata saya. Kasus tersebut adalah kasus yang menimpa Audrey. Kasus tersebut awalnya ramai lewat twitter seinget saya, dan netizen langsung meramaikan tagar #JusticeForAudrey. Aksi tersebut sebagai aksi dukungan kepada Audrey yang dikabarkan menjadi korban kekerasan.  Namun, entah kenapa. beberapa hari kemudian ada sebuah pernyataan dari kepolisian yang membantah beberapa tudingan yang ramai diceritakan oleh netizen. mulai dari jumlah pelaku, kondisi kekerasan yang terjadi dan lain-lain.  Dikesempatan kali ini, saya tidak mengomentari apa yang terjadi dengan Audrey. Namun yang menjadi fokus saya adalah bagaimana netizen bereaksi terhadap isu. Saya kira jutaan netizen akan menyesal akan aksi reaktif mereka. Saya tidak menyalahkan itu. Biarlah...

Atur Waktu

Hari ini tiba-tiba kepikiran untuk coba pake aplikasi sederhana, google calendar. Jujur aja, kita semua punya waktu 24 jam. Cuman kita harus gmn manage waktu yang ada sebaik mungkin. Refleksi kebelakang, manajamen waktu gue masih berantakan. Agenda harian random. Nah harapannya instal ini aplikasi biar bisa jalani hari lebih tertata ahahaha. Waktu yang ada, dipake bukan biar bisa sibuk kesana kesini tapi lebih ke produktif, jadi efisiensi waktu. Jadi pengen fokus sama hal-hal yang memang prioritas aja buat dilakuin. Mulai hari ini, mau coba buat diri lebih disiplin. mayanlah udah ngelist beberapa agenda pendek-menengah waktu kedepan. Semoga bisa berhasil wkwkwk, secara mageran dan agak random. Untuk seminggu atau sebulan ini nnti dicoba dl aplikasinya, nnti evaluasinya bakal di sharing ke sini. siapa tau ada pelajaran baru. Ayo, atur waktu sebaik mungkin.

world peace day

Kedamaian, dambaan semua umat dimuka bumi.   Alangkah bahagianya bila kita semua hidup bersama-sama dengan rukun dan tentram.  Pada konteks hari ini, banyak sekali yang dapat merenggut kedamaian Mulai dari fitnah-fitnah yang mencemarkan nama baik Membatasi atau bahkan menghilangkan hak-hak kemanusian. Sampai disini, kita hanya bisa memikirkan kedamaian yang didambakan manusia Sudah saatnya, kita mulai menciptakan kedamaian bagi setiap mahkluk hidup Dengan menikmati semua yang ada dibumi, tanpa merusaknya Biarlah pohon-pohon meninggi dan menghijaukan alam Biarlah hewan-hewan hidup bebas tanpa terancam. Berdampinganlah dengan damai, semua mahkluk hidup.  Selamat hari perdamaian dunia  

Ekspetasi

Saya kira ekspetasi menjadi penentu kehidupan manusia.  Penentu apa? Ekspetasi, atau bahasa yang lebih sehari-hari disebutkan harapan.  Apa yang diharapkan dari seorang mahasiswa ketika meninggalkan kampung halamannya untuk merantau dan menimba ilmu? Apa yang diharapkan oleh guru ketika pagi-pagi benar pergi kesekolah untuk membagikan ilmu kepada siswanya? Atau apa yang diharapkan penulis ini saat menuliskan tulisannya? Disini kemungkinan besar, saya asumsikan semua tindakan yang dilakukan disertakan dengan harapan didalamnya.  Mengapa kemudian kita dapat berbahagia? Merasakan kesal? putus asa? Saya rasa itu kembali pada masing-masing pada harapan personal individu. Pernahkah tersadari? Mengapa disatu kondisi yang sama, tetapi reaksi individu berbeda?  Disuatu kondisi seorang teman yang mendapatkan nilai 75 merasa nilai tersebut sudah cukup? namun pada teman yang lain nilai 75 menjadi pukulan yang teramat? Mengapa seorang pesep...